Manusia Tidak di Perkenankan ber-Akal Oleh Tuhan

Unknown | 00.22 | 0 komentar
Sepertinya ada dua pilihan ekstrem bagi manusia. Mempercayai akalnya atau mempercayai Tuhan. Jika manusia mempercayai Tuhan maka dia harus menolak akalnya. Jika manusia mempercayai akalnya maka manusia harus menolak Tuhan.


Dua hal ini, Tuhan dan akal, tidak bisa tinggal satu rumah dalam diri manusia.

Manusia yang mempercayai Tuhan, meskipun mereka mengaku berpikir, tapi pikirannya adalah kata lain dari perasaan. Dengan kata lain adalah rasionalisasi untuk pembenaran. Untuk membela perasaannya. Agar perasaannya tentang Tuhan tampak masuk akal.

Akal, jika dia benar-benar hidup dan berfungsi, bukanlah untuk mempercayai. Tapi adalah untuk mempertanyakan segala sesuatu. Yang mempercayai adalah pekerjaan hati, pekerjaan perasaan. Itu sebabnya perasaan tidak bisa dibiarkan melajur sendiri. Karena perasaan seperti kuda liar tanpa kompas. Tapi akal, bagaikan mahkota kejayaan manusia. Melebihi prestasi segala mahkluk. Karena akallah adanya kebudayaan. Tumbuh-tumbuhan dan hewan tidak pernah memliki kebudayaan. Belum pernah sejarah mencatat ada satu Universitas pun didirikan oleh spesies hewan yang paling cerdas sekali pun.

Akal, adalah mata air kecemerlangan. Gudang inspirasi sepanjang zaman. Karena akal, manusia merubah wajah kehidupan. Karena akal manusia sampai ke bulan. Karena akal manusia mengerti apa artinya kebaikan. Karena akal manusia mengerti apa artinya persaudaraan antar sesama manusia dan lingkungan hidupnya.

Tapi ketika manusia sudah keracunan akan kepercyaan pada Tuhan, maka akal menjadi tidur dan mati. Hingga konflik dan pertengkaran atas nama Tuhan menjadi halal. Hingga darah dan nyawa manusia menjadi kehilangan arti. Demi Tuhan yang tak pernah jelas dan real dalam kenyataan.

baca juga Iman Tanpa Nalar di klik saja.



Kritik Immanuel Kant Tentang Keberadaan Tuhan

Unknown | 09.24 | 2 komentar
Menurut Kant, pengetahuan manusia muncul dari dua sumber utama yaitu pengalaman pancaindra dan pemahaman akal budi (rasio). Pengalaman yang diperoleh melalui pancaindra kita kemudian diolah oleh pemahaman rasio kita dan menghasilkan pengetahuan. Itu sebabnya pengetahuan manusia selalui bersifat apriori dan aposteriori secara bersamaan. Tanpa pengalaman indrawi maka pengetahuan hanyalah konsep-konsep belaka, tetapi tanpa pemahaman rasio pun pengalaman indrawi hanya merupakan kesan-kesan pancaindra belaka yang tidak akan sampai pada keseluruhan pengertian yang teratur yang menjadikannya sebagai sebuah pengetahuan.



Pengetahuan bermula dari pengalaman pancaindra yang kemudian diolah oleh pemahaman rasio untuk menghasilkan sebuah pengetahuan yang menyeluruh dan teratur. Oleh sebab itu, maka segala sesuatu yang tidak bisa dialami oleh pancaindra tidak bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan, tetapi hanya sebagai sebuah hipotesis belaka.

Maka objek-objek seperti tuhan tidak bisa dibuktikan kebenarannya dan ketidakbenarannya karena tuhan berada di luar jangkauan pancaindra. Kita tidak akan pernah bisa mendapatkan pengetahuan tentang tuhan sejauh apa pun kita berusaha (agnostisisme).

Dari dasar inilah kemudian Kant menolak argumentasi-argumentasi yang mencoba membuktikan keberadaan tuhan.

Argumentasi pertama yang ditolak oleh Kant adalah argumentasi fisika-teologis. Menurut argumen ini, fakta di alam semesta membuktikan bahwa segala sesuatu itu memiliki keterarahan akan tujuan tertentu. Ada sebuah tatanan yang rapi di alam semesta yang menyebabkan alam semesta ini seperti telah ada yang mengatur. Semua makhluk hidup di alam semesta tidak ada begitu saja melainkan seakan-akan memiliki tujuan (telos) akhir. Dan tujuan akhir (causa finalis) dari semua keterarahan ini adalah menuju kepada tuhan, maka tuhan itu ada.

Dengan tegas Kant menolak argumen ini. Menurut Kant, pembuktian melalui data-data empiris secara teoritis tidak sah. Keterarahan yang dijadikan dasar pijakan argumen fisika teologis tidak secara langsung bisa membuktikan bahwa tuhan itu ada. Menurutnya; yang bisa disimpulkan dari argumen itu adalah adanya arsitek dunia yang aktivitasnya mungkin dibatasi oleh kapasitas makhluk padanya arsitek itu bekerja, dan bukan kreator dunia yang kepadanya segala sesuatu tunduk.

Argumen kedua yang ditolak oleh Kant adalah argumen kosmologis. Argumen ini didasarkan pada kontigensi di alam semesta (kosmos). Kontigensi artinya kemungkinan untuk ada atau tidak ada. Tetapi pada kenyataannya alam semesta ini ada, padahal alam semesta mungkin saja tidak ada. Oleh sebab itu maka alam semesta menjadi tidak niscaya alias kontigen. Karena alam semesta itu tidak niscaya pasti ia bergantung pada sesuatu yang niscaya, yang niscaya adalah tuhan. Maka tuhan itu ada.

Kant juga menolak argumen kosmologis ini. Menurut Kant, adalah benar sesuatu yang tidak niscaya (kontigen) pasti bergantung pada sesuatu yang niscaya. Akan tetapi, argumen ini hanya berlaku pada objek-objek indrawi saja. Tuhan adalah objek supraindrawi (tidak bisa diamati oleh pancaindra). Alam semesta adalah objek indrawi dan alam semesta bergantung pada objek yang supraindrawi (tuhan) adalah tidak sah secara logis. Argumen ini tidak serta merta membuktikan tuhan itu ada.

Sedangkan argumen ketiga yang juga ditolak adalah argumen ontologis. Argumen ontologis berpijak pada konsep tuhan sebagai entitas yang mahasempurna. Oleh karena tuhan mahasempurna itu berarti tuhan itu ada, karena apabila tuhan tidak ada maka tuhan tidak mahasempurna. Oleh sebab tuhan mahasempurna, maka tuhan ada.

Lagi-lagi Kant juga menolak argumentasi ini. Menurut Kant, esensi tidak dengan sendirinya menyertakan eksistensi. Ide atau konsep tentang sesuatu (seperti tuhan itu mahasempurna) tidak dengan sendirinya terkandung eksistensinya. Di dalam otak saya, saya berpikir bahwa saya mempunyai uang 100 juta. Pikiran saya itu nyata adanya, tetapi tidak berarti saya secara nyata memiliki uang 100 juta. Menurut Kant, kita tidak dapat menderivasikan (menurunkan) realitas dari konsep. Konsep saya mempunyai uang 100 juta tidak serta merta menjadikan saya memiliki uang 100 juta walaupun konsep tentang saya memiliki uang 100 juta itu benar adanya. Begitu pula konsep tuhan mahasempurna tidak serta merta menjadikan tuhan itu ada secara nyata.

Maka kemudian ada tidaknya tuhan tidak dapat dibuktikan. Kita sampai pada kesimpulan bahwa kita tidak akan pernah memperoleh pengetahuan tentang keberadaan tuhan dan ketidakberadaannya. Tuhan itu ada atau tuhan itu tidak ada kita tidak akan pernah sanggup membuktikannya. Inilah kritik Immanuel Kant tentang keberadaan tuhan sejauh yang saya pahami.


Orang Yang Membunuh Tuhan Itu Bukan Saya Tapi Nietzsche

Unknown | 09.58 | 0 komentar

Mendengar nama Nietzsche, ingatan kita langsung dibawa ke sosok filsuf yang dengan lantang meneriakkan kematian tuhan. Requiem Aeternam Deo! (semoga tuhan beristirahat dalam kedamaian abadi). Pemberontakan Nietzsche tersebut telah membuat gempa bumi dahsyat di Eropa, karena menyerang akar kultur barat (tradisi Yudeo-Kristiani). Sebuah gempa dahsyat yang getarannya masih terasa sampai sekarang.


Persoalannya sekarang, kita perlu memahami mengapa Nietzsche berkeras membunuh tuhan. Filsuf sekaliber beliau pasti memiliki alasan kuat untuk mematikan tuhan.

Dasar bangunan argumentasi ateisme Nietzsche adalah filsafat manusianya. Nietzsche, sperti layaknya humanis-sekuler lainnya, memandang manusia sebagai makhluk yang menempasti posisi khusus dalam tatanan kosmos. Namun demikian, berbeda dengan para filsuf rasionalis, Nietzsche berkeras bahwa kekhususan manusia tidak terletak pada rasionya, melainkan kehendak. Persisnya adalah apa yang disebutnye sebagai kehendak berkuasa.

Konsep Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa berkaitan erat dengan konsep filsafat hidup (lebenphilosophie) tentang hidup. Tradisi filsafat hidup memandang hidup bukan semata-mata proses biologis, melainkan arus yang mengalir, meretas dan tidak tunduk pada apapun yang mematikan gerak hidup. Nietzsche sendiri memandang hidup sebagai insting atas pertumbuhan, kekalahan dan penambahan kuasa. Pendeknya, hidup menurut Nietzsche adalah kehendak untuk berkuasa!

Absennya kehendak kuat untuk berkuasa membuat manusia menjadi lemah, serba takut, serba kalah dan menyerahkan hidupnya untuk diatur oleh berbagai macam pedoman eksternal. Nietzsche mengemukakan konsepnya tentang ideal asketisme. Ideal asketisme adalah idealisasi, sublimasi rasa sakit, benci, dendam, kelemahan dan ketidakberdayaan menjadi suatu yang bermakna supaya lebih bisa ditahan. Nietzsche menyalahkan moralitas kristiani sebagai bentuk ideal asketisme. Demi mempertahankan kedudukannya, Nietzsche melakukan genealogi untuk menelusuri asal usul nilai moral.

Nietzshe mengemukakan bahwa suatu ketika masyarakat terpilah menjadi dua kelas, yaitu budak dan kelas aristokrat. Kelas budak, dalam perspektif Nietzsche, bukanlah kelas tertindas melainkan sekawanan orang yang tak berbakat dan lemah. Miskin dalam stamina, kesehatan, energi, vitalitas, semangat, tidak menarik secara fisikal dan seksual. Serba kekurangan yang membuat hidup mereka menderita dan marah terhadap kemuraman hidup mereka. Mereka kemudian juga benci, cemburu dan dendam terhadap kelas aristokrat yang memiliki apa-apa yang tidak mereka miliki (kesehatan, energi, vitalitas dan lain-lain). Perang terhadap kelas aristokrat tak membawa hasil apa-apa, sampai pada suatu ketika kelas budak menggunakan senjata terakhir mereka: pembalikan niali-nilai. Mereka membalik nilai-nilai aristokrat yang tadinya mereka anggap tinggi menjadi niali-nilai rendah yang akan dibalas tuhan di akhirat. Dendam mereka terhadap kelas tuan terlampiaskan dengan mematok nilai-nilai aristokrat sebagai ‘jahat’. Kelas budak akhirnya berdamai dengan kegagalan, kelemahan, ketakberdayaan mereka dengan meluhurkan semua itu dan meletakkan semua di luarnya sebagai ‘jahat’.

Kemanusiaan yang termiskinkan oleh nilai-nilai melemahkan kelas budak, menurut Nietzsche, sudah saatnya dibongkar. Langkah pertama pembongkaran nilai-nilai budak adalah pembunuhan tuhan sebagai idealisasi rasa benci, dendam ketidakberdayaan kelas budak menghadapi kelas aristokrat. Tuhan adalah pelipur lara kelas budak yang menjamin dendam mereka akan terlampiaskan dengan menghukum yang jahat di akhirat. Tuhan adalah jaminan bagi kelas budak utnuk berdamai dengan kegagalan, kelemahan dan ketakberdayaan, karena semua itu akan tekompensasi oleh hadiah surgawi.

Pembunuhan tuhan sudah tak terelakkan lagi guna mentransvaluasi nilai-nilai dan memunculkan adimanusia (ubermensch) yang afirmatif terhadap hidup dan mengakomodasi kehendak berkuasa sebagai nilai tertinggi. Adimanusia, menurut Nietzsche, akan menggantikan posisi tuhan, karena ia sendiri menentukan yang baik bagi dirinya (suatu peralihan dari ‘kamu harus’ ke ‘saya ingin’). Adimanusia jualah yang nantinya akan menganut amor fati (cinta kasih) dan percaya akan kembalinya secara sama segala sesuatu (eternal recurrene of the same). Amor fati adalah kecintaan akan hidup ini dan ketidaksudian untuk melarikan diri ke dunai akhirat sebagai kompensasi penderitaan di dunia ini. Konsekuansi dari amor fati adalah tiadanya akhirat sebagai keabadian sejati yang mendegradasikan hidup duniawi sebagai kesementaraan tanpa makna, akhirat dimana tuhan akan mengeksekusi yang jahat dan menghadiahi yang baik (versi budak tentu saja).

Ketiadaan tuhan dan akhirat disampaikan Nietzsche lewat gagasanya tentang kembalinya segala sesuatu secara sama. Bahwasanya dunia menjadi bernilai ketika tuhan sudah lenyap; apa pun yang pergi akan kembali lagi, apa pun yang kering akan merekah lagi. Dunia yang kita hidupi sekarang dapat dikatakan sebagai abadi dan divine; sifat-sifat yang tadinya hanya dilekatkan pada tuhan transenden.

Singkatnya tuhan adalah absurd karena melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dia telah mendorong orang untuk takut terhadap hasrat, tubuh, seksualitas mereka sendiri dan mempromosikan moralitas belas kasih yang membuat kita lemah. Tuhan telah lama digunakan untuk mengasingkan manusia dari kemanusiaan melalui tindakan menolak dunia (asketisme)


Dialog Antara Tuhan Dengan Atheis dan Muslim

Unknown | 09.15 | 1 komentar

Suatu hari di akhirat, menghadap seorang Atheis dan seorang Muslim. Tuhan memutuskan untuk memasukkan si Atheis ke surga, dan si Muslim malah dimasukkan ke neraka. Ini tentu saja membuat si Muslim komplain pada Tuhan.

si Muslim : “Tuhan, kenapa Engkau malah menempatkan aku di neraka, bukannya aku hambaMu yang selalu setia, segalanya selalu aku serahkan kepadaMu, selalu membelaMu, dan selalu memohon kepadaMu”?

Tuhan : "Aahhh kamu ini ! bisanya sok-sok an katanya mau membela AKU , kamu tau bahwa AKU bisa membela diri Ku sendiri dan tak perlu harus dibela-bela, AKU sanggup dan Bisa membela Diri KU sendiri , kamu tau apapun yang AKU mau pastilah terlaksana , kamu memang bisanya cuma ngrepotin melulu, sakit bukannya minum obat malah nyuruh AKU yg sembuhin, kau yg banyak utang, suruh AKU yg lunasin. AKU disuruh jadi satpam jaga rumah kamu, sedang kamu enak-enak kan berfoya-foya. Baru ngasih sumbangan 10 ribu aja, AKU diminta balikin rezeki ke kamu 100 juta dan malah minta sebanyak-banyak nya pula . kamu yg enak-enakan bikin anak, AKU lagi yang disuruh pelihara dan bilang kalau AKU yg ngasih anak itu, bilang lagi kalau AKU yg nitipin anak . Kemaren kamu mati gara-gara udah tau darah tinggi, eeeh malah makan sate kambing dan makan duren !!! Sekarang kamu mati, seluruh keluargamu bilang AKU yang manggil kamu. Sekarang kamu ke sini mau apa ? Kamu cuma mau Masuk surga KU kan ? Enak aja" !!

si Muslim : "Kalau aku KAU masuk kan ke neraka, lalu mengapa justru si Atheis KAU masuk kan ke Surga ya Tuhan" ??

Tuhan : "Kamu liat sendiri kan si Atheis! dia nggak pernah ngrepotin AKU. Tiap hari melakukan kebaikan, meski dia gak peduli dengan AKU ini siapa. Hatinya tulus tanpa pamrih semua perbuatan baiknya tak mengharapkan balasan . Ya jelas aku pilih dia daripada kamu yang ngakunya beriman, tapi nggak ngerti apa maunya AKU dan ga bisa melaksanakan perintah-perintah KU ! Percumalah kamu ngaku jadi pengikut KU, tapi nggak pernah jadi orang baek, semua nya perbuatanmu minta pamrih ! kamu benar-benar nggak ada mirip-miripnya utk jadi orang beriman !!! Jadi sorry, tempat kamu bukan di Surga, tapi di Neraka" !!!

si Atheis : "Kalau boleh aku bertanya, bukankah Engkau sendiri ya Tuhan yang telah mengatakan bahwa manusia tidak punya daya selain Engkau yang memberikanya, Enkau juga mengatakan akan mengganti 1 kebaikan dengan berlipat-lipat, terus ada lagi Engkau mengatakan bahwa mati, rizki, jodoh, itu semua adalah sudah ketetapan MU" ??

Tuhan : "ahh siapa bilang manusia nggak punya daya. dia punya otak untuk berpikir, punya mata, kuping, mulut, tangan, kaki, bukan kah manusia bisa melakukan apa saja dengan itu semua. Yang kamu ketahui itu semua adalah klaim manusia untuk meng-kambing hitam-kan kemalasanya sendiri. Padahal AKU sama sekali tidak pernah mengatakan tentang itu semua. Itu kan buatan teman-temanya si Muslim, biar di anggap lebih alim" !!!

Salah Bila Islam Adalah Agama Yang Paling Benar

Unknown | 08.23 | 1 komentar
Saya setuju bahwa Islam benar bagi pemeluknya, seperti juga sikap saya. Karena apa artinya meyakini sesuatu yang tidak kita yakini kebenarannya. Sikap seperti, ini selain ngawur juga bisa dinilai asal. Asal ikut-ikutan. Tidak mengikuti sesuatu dengan pengetahuan dan pemahaman. Tidak berakar pada kesadaran.

Karena agama adalah soal keyakinan, maka kebenaran agama juga bersifat keyakinan. Kebenaran yang bersifat metafisis. Bukan kebenaran ilmiah seperti meyakini bahwa matahari bersinar misalnya. Karena semua orang (kecuali yang buta, itu kasus) akan setuju bahwa matahari itu bersinar. Tapi berbeda dengan agama yang kebenarannya tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Tidak semua orang akan setuju bahwa Islam adalah agama yang benar. Kebenarannya tergantnug pada keyakinan seseorang, meskipun untuk mendukung keyakinan itu juga bisa dibantu atau didukung oleh banyak hal. Tapi inti dari keyakinan tetaplah berangkat dari sebuah sebuah aksioma (dasar, dalil yang dianggap mutlak benar) . Berangkat dari meyakini adanya Tuhan dan utusan yang membawa risalahNya.

Sehubungan dengan Islam, aksiomanya adalah meyakini Allah sebagai Tuhan. Dan meyakini Muhammad sebagai Nabi yang menerima wahyu dari Tuhan. Akan tetapi, karena dasarnya adalah aksioma, tidak semua orang akan meyakininya. Karena orang lain tidak berangkat dari aksioma yang sama. Tidak sama-sama berangkat dari aksioma yang digunakan umat Islam. Misalnya bagi umat Kristen, aksioma mereka lebih kurang adalah bahwa mereka yakin adanya Tuhan Bapa. Dan meyakini Yesus sebagai Tuhan Anak, yang merupakan manifestasi Tuhan Bapa dalam diri manusia. Begitu juga aksioma mereka dengan Roh Kudus.

Belum lagi jika hal ini dihubungkan dengan sikap kaum Atheis. Mereka tidak percaya sama sekali pada segala aksioma. Jika kaum beragama berangkat dari aksioma, kaum Atheis justru berangkat dari titik nol. Mereka menjelajah sesuatu tanpa dasar. Tanpa dogma. Murni memahami segala sesuatu menggunakan indera dan penalaran. Tidak menggunakan keyakinan.

Nah, berdasarkan dari penalaran seperti inilah saya berpendapat bahwa Islam bukanlah agama yang paling benar. Secara psikologi bahasa, secara tersirat pernyataan ini mengklaim hanya Islamlah yang paling benar dan agama lain salah. Dan secara psikologi sosial, pernyataan ini rentan mengundang konflik lintas agama. Karena secara tidak langsung pernyataan ini terkesan mendiskreditkan agama lain.

Saya tidak bermaksud menyudutkan Islam. Tapi ingin memahami persoalan ini dalam relasi antar umat beragama. Dalam etika pergaulan antar umat bergama, khsusnya dalam etika komunikasi antar umat beragama.

Islam benar bagi umatnya sendiri. Tapi di ruang publik, dalam relasi antar pemeluk agama, pernyataan ini menjadi tidak etis. Bagi saya akan lebih etis dan bijak jika digunakan kalimat: Islam benar bagi kami. Islam benar bagi saya. Dan seterusnya.



Mengapa Manusia Menciptakan Tuhan

Unknown | 05.01 | 3 komentar
Sejarah membuktikan pembicaraan tentang Tuhan telah menyita energi manusia sepanjang sejarah kemanusiaan. Sepanjang sejarah kebudayaan.

Sejarah telah mencatat, jutaan nyawa melayang untuk mempertahankan agar Tuhan tetap menang. Agar Tuhan tetap hidup. Manusia saling memperjuangkan agar Tuhan tidak kewalahan.

Tapi Tuhan tak pernah hadir.
Tuhan tak pernah menampakkan diri.
Selain hanya diciptkan manusia dalam hati dan pikirannya.
Dalam imajinasinya.

Kenapa Manusia Menciptakan Tuhan?

Manusia menciptakan Tuhan untuk menjawab naluri rasa takutnya akan misteri hidup yang tak pernah terjawab.

Manusia menciptakan Tuhan untuk melarikan diri dari kebebasannya untuk bertanggung jawab penuh atas segala kelemahan dan keterbatasan dirinya.

Manusia menciptakan Tuhan untuk menghibur dirinya dari kekosongan makna hidup.

Manusia menciptkan Tuhan untuk melepaskan dahaga harapannya akan sesuatu yang ideal. Sesuatu yang sempurna. Dengan kata lain, manusia menciptakan Tuhan karena tidak sanggup menerima kenyataan sebagaimana adanya. Rasa sakit psikologis selalu menghantuinya tanpa ada Tuhan dalam hati dan pikirannya.